Susahnya Move On ?

Kemarin, saya menjenguk sahabat saya dirumahnya. Ia tidak sakit sebenarnya, hanya lemah dan tak bergairah untuk beraktifitas. Ibunya berkali-kali menelephone saya agar saya menemaninya, karena yang ibunya tau, saya adalah sahabat dekat dia.

Teman saya itu, sebut saja namanya Mikel, adalah kawan sesama alumnus STMIK AKAKOM Yogyakarta. Ia baru saja gagal menikah, calon istrinya yang sudah berpacaran dengannya lebih dari 5 tahun itu meninggalkan dirinya tanpa alasan jelas.

Bagi Mikel, masalah ini tentunya berat. Dari raut wajahnya, ia terlihat sangat terpukul dengan keadaan ini. “Kenapa berat banget cobaan ini bro ?,” curhat dia padaku.

Berhubung dia sahabat dekatku, aku tak sungkan untuk berkata apapun dengannya, “Apa kebahagiaan mutlak hidupmu ini hanya dengan dia bro ? apa kamu sudah ngga punya kebahagiaan lain lagi selain dengannya?,” tanyaku padanya.

“Bisa jadi begitu, tapi ngga tau lah, aku sudah banyak berkorban untuknya, tapi begini akhirnya, dia buat aku kecewa,” jawab dia. “Kecewa dengan marah beda bro, kalau marah itu bisa aja aku sebentar reda, tapi ini kecewa, kamu tau khan gimana rasanya kecewa itu ? sampai kapanpun akan susah hilang,” papar dia.

Jika kita mau belajar dari kasus Mikel kawanku ini, banyak yang sebenarnya bisa kita pelajari. Salah satunya pesan yang mengatakan “Jika kamu mencintai seseorang, janganlah cinta itu melebihi cintamu kepada TUHAN”.

Dari perkataan itu, ada pesan penting didalamnya, meski cinta kita begitu dalam terhadap kekasih, tetap tidak boleh melebihi cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Manfaatnya banyak, salah satu kemungkinan terburuknya adalah ketika tertimpa masalah seperti Mikel sahabat saya itu.

Kemudian, dari yang pernah saya pelajari, cinta terhadap kekasih jangan juga melebihi cinta kepada kedua orang tua serta keluarga kita. Pesan dari kata-kata itu, begitu dalamnya, namun sayang tak semua orang mengindahkannya, justru kebanyakan yang terjadi malah mencintai pacarnya terlalu berlebih-lebihan.

Umumnya orang yang terlalu melebih-lebihkan cinta kepada kekasihnya, ia akan susah Move On apabila terjadi kemungkinan terburuk semisal putus dan sebagainya. Karena saat dalam kondisi itu, jiwanya akan sangat terguncang, ia merasa seolah tak punya cinta lagi, tak punya kebahagiaan lagi didunia ini selain dengan mantan kekasihnya itu.

Lalu bagaimana solusinya apabila terjadi kasus seperti Mikel sahabat saya itu ? jawabannya simple sebenarnya meski tak sesimple melakukannya.

Dari yang pernah saya pelajari dan lakukan, salah satunya adalah dengan tetap beraktifitas seperti biasa, isi hari-hari dengan kesibukan. Fungsinya, untuk ‘mereplace’ dominasiĀ soal mantan kekasih di alam bawah sadar kita sehingga energi penyesalan dan (mungkin) rindu itu akan berkurang bahkan hilang.

Dan dari yang saya ketahui, jangan pernah berniat untuk melupakan kekasih, karena semakin diniatkan, akan semakin sulit untuk melupakannya. Tetap lakukan kegiatan dan isi hari-hari dengan sesuatu yang baru.

Jika bisa konsisten melakukan hal itu, Insya Allah, energi rindu dan penyesalan mendalam terhadap mantan kekasih perlahan akan terkikis, kemudian hilang dan berganti dengan kehidupan yang baru.

norjik

Bernama asli Imam Hojali, Alumnus Strata 1 STMIK AKAKOM Yogyakarta Jurusan Teknik Informatika. Menulis Blog sejak tahun 2006 di http://norjik.blogspot.com dan berlanjut di http://norjik.web.id, masih aktif sebagai Tenaga IT di salah satu Perusahaan Swasta di Kalimantan Timur